Minggu, 15 Januari 2012

SHMILY :)

Kakek-nenekku sudah lebih dari setengah abad menikah,

namun tetap memainkan permainan istimewa itu sejak

mereka bertemu pertama kali. Tujuan permainan mereka

adalah menulis kata "shmily" di tempat yang secara tak

terduga akan ditemukan oleh yang lain. Mereka bergantian

menulis "shmily" di mana saja di dalam rumah. Begitu

yang lain menemukannya, maka yang menemukan sekali

lagi mendapat giliran menulis kata itu di tempat tersembunyi.

Dengan jari mereka menorehkan "shmily" di dalam

wadah gula atau wadah tepung, untuk ditemukan oleh

siapa pun yang mendapat giliran menyiapkan makanan.

Mereka membuatnya dengan embun yang menempel pada

jendela yang menghadap ke beranda belakang, tempat

nenekku selalu menyuguhkan puding warna biru yang

hangat, buatannya sendiri. "Shmily" dituliskan pada uap

yang menempel pada kaca kamar mandi setelah seseorang

mandi air panas; kata itu akan muncul berulang-ulang

setiap kali ada yang selesai mandi. Nenekku bahkan pernah

membuka gulungan tisu toilet dan menulis "shmily" di

ujung gulungan itu.

"Shmily" bisa muncul di mana saja. Pesan-pesan

singkat dengan "shmily" yang ditulis tergesa-gesa bisa

ditemukan di dasbor atau jok mobil, atau direkatkan pada

kemudi. Catatan-catatan kecil itu diselipkan ke dalam

sepatu atau diletakkan di bawah bantal. "Shmily" digoreskan

pada lapisan debu di atas penutup perapian atau pada

timbunan abu di perapian. Di rumah kakek-nenekku, kata

yang misterius itu merupakan sesuatu yang penting, sama

pentingnya dengan perabotan.

Aku memerlukan waktu lama sekali sebelum benarbenar

bisa memahami dan menghargai permainan kakeknenekku.

Sikap skeptis membuatku tidak percaya bahwa

cinta sejati itu ada—cinta yang murni mengatasi segala

suka dan duka. Meski begitu, aku tak pernah meragukan

hubungan kakek-nenekku. Mereka sungguh saling

mencintai. Dengan cinta yang lebih mendalam daripada

kemesraan yang mereka tunjukkan; cinta adalah cara dan

pedoman hidup mereka. Hubungan mereka didasarkan

pada pengabdian dan kasih yang tulus, yang tidak semua

orang cukup beruntung untuk mengalaminya.

Kakek dan Nenek selalu bergandengan tangan kapan

saja kesempatan memungkinkan. Mereka berciuman sekilas

bila bertabrakan di dapur mereka yang mungil. Mereka

saling menyelesaikan kalimat pasangannya. Setiap hari

mereka bersama-sama mengisi teka-teki silang atau permainan

acak kata. Nenekku membisikkan kepadaku bahwa

kakekku sangat menarik, dan bahwa semakin tua Kakek

semakin tampan. Menurut Nenek, dia tahu "bagaimana

membuat Kakek bahagia." Sebelum makan mereka selalu

menundukkan kepala dan mengucap syukur atas rakhmat

yang mereka terima: keluarga yang bahagia, rezeki yang

cukup, dan pasangan mereka.

Tetapi, dalam kehidupan kakek-nenekku ada satu sisi

kelam: nenekku menderita kanker payudara. Penyakit itu

pertama kali diketahui sepuluh tahun sebelumnya. Seperti

yang selalu dilakukannya, Kakek mendampingi Nenek

menjalani setiap tahap pengobatan. Dia menghibur Nenek

di kamar kuning mereka, yang sengaja dicat dengan warna

itu agar Nenek selalu dikelilingi sinar matahari, bahkan

ketika dia terlalu sakit untuk keluar rumah.

Sekali lagi kanker menyerang tubuh Nenek. Dengan

bantuan sebatang tongkat dan tangan kakekku yang kukuh,

mereka tetap pergi ke gereja setiap pagi. Tetapi nenekku

dengan cepat menjadi lemah sampai, akhirnya, dia

tak bisa lagi keluar rumah. Kakek pergi ke gereja sendirian,

berdoa agar Tuhan menjaga istrinya. Sampai pada suatu

hari, apa yang kami takutkan terjadi. Nenek meninggal.

"Shmily." Kata itu ditulis dengan tinta kuning pada

pita-pita merah jambu yang menghias buket bunga duka

untuk nenekku. Setelah para pelayat semakin berkurang

dan yang terakhir beranjak pergi, para paman dan bibiku,

sepupu-sepupuku, dan anggota keluarga lainnya maju mengelilingi

Nenek untuk terakhir kali. Kakek melangkah

mendekati peti mati nenekku lalu, dengan suara bergetar,

dia menyanyi untuk Nenek. Bersama air mata dan

kesedihannya, lagu itu dia nyanyikan; lagu ninabobo dalam

alunan suara yang dalam dan parau.

Tergetar oleh kesedihanku sendiri, aku takkan pernah

melupakan saat itu. Karena pada saat itulah, meskipun aku

belum dapat mengukur dalamnya cinta mereka, aku mendapat

kehormatan menjadi saksi keindahannya yang abadi.

S-h-m-i-l-y: See How Much I Love You.

Lihat, betapa aku mencintaimu.

Terima kasih, Kakek dan Nenek, karena telah mengizinkan

aku melihatnya.

-Laura Jeanne Allen-

Kisah Seekor Kupu-Kupu

Di sebuah kota kecil yang tenang dan indah, ada sepasang laki-laki dan perempuan yang saling mencintai. Mereka selalu bersama memandang matahari terbit di puncak gunung, bersama di pesisir pantai menghantar matahari senja. Setiap orang yang bertemu dengan mereka tidak bisa tidak akan menghantar dengan pandangan kagum dan doa bahagia. Mereka saling mengasihi satu sama lain Namun pada suatu hari, malang sang lelaki mengalami luka berat akibat sebuah kecelakaan. Ia berbaring di atas ranjang pasien beberapa malam tidak sadarkan diri di rumah sakit. Siang hari sang perempuan menjaga di depan ranjang dan dengan tiada henti memanggil-memanggil kekasih yang tidak sadar sedikitpun. Malamnya ia ke gereja kecil di kota tersebut dan tak lupa berdoa kepada Tuhan Agar kekasihnya selamat. Air matanya sendiri hampir kering karena menangis sepanjang hari. Seminggu telah berlalu, sang lelaki tetap pingsan tertidur seperti dulu, sedangkan si perempuan telah berubah menjadi pucat pasi dan lesu tidak terkira, namun ia tetap dengan susah payah bertahan dan akhirnya pada suatu hari Tuhan terharu oleh keadaan perempuan yang setia dan teguh itu, lalu Ia memutuskan memberikan kpada perempuan itu sebuah pengecualian kpada dirinya. Tuhan bertanya kepadanya "Apakah kamu benar-benar bersedia menggunakan nyawamu sendiri untuk menukarnya?". Si perempuan tanpa ragu sedikitpun menjawab "Ya". Tuhan berkata "Baiklah, Aku bisa segera membuat kekasihmu sembuh kembali, namun kamu hrs berjanji menjelma menjadi kupu-kupu selama 3 tahun. Pertukaran seperti ini apakah kamu juga bersedia?". Si perempuan terharu setelah mendengarnya dan dengan jawaban yang pasti menjawab "saya bersedia!". Hari telah terang. Si perempuan telah menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Ia mohon Diri pada Tuhan lalu segera kembali ke rumah sakit. Hasilnya, lelaki itu benar-benar telah siuman bahkan ia sedang berbicara

dengan seorang dokter. Namun sayang, ia tidak dapat mendengarnya sebab ia tak bisa masuk ke ruang itu. Dengan di sekati oleh kaca, ia hanya bisa memandang dari jauh kekasihnya sendiri. Beberapa hari kemudian, sang lelaki telah sembuh. Namun ia sama sekali tidak bahagia. Ia mencari keberadaan sang perempuan pada setiap orang yang lewat, namun tidak ada yang tahu sebenarnya sang perempuan telah pergi kemana. Sang lelaki sepanjang hari tidak makan dan istirahat terus mencari. Ia begitu rindu kepadanya, begitu inginnya bertemu dengan sang kekasih, namun sang perempuan Yang telah berubah menjadi kupu-kupu bukankah setiap saat selalu berputar di sampingnya? Hanya saja ia tidak bisa berteriak, tidak bisa memeluk. Ia hanya bisa memandangnya secara diam- diam. Musim panas telah berakhir, angin musim gugur yang sejuk meniup jatuh daun pepohonan. Kupu-kupu mau tidak mau harus meninggalkan tempat tersebut lalu terakhir kali ia terbang dan hinggap di atas bahu sang lelaki. Ia bermaksud menggunakan sayapnya yang kecil halus membelai wajahnya, menggunakan mulutnya yang kecil lembut mencium keningnya. Namun tubuhnya yang kecil dan lemah benar-benar tidak boleh di ketahui olehnya, sebuah gelombang suara tangisan yang sedih hanya dapat di dengar oleh kupu-kupu itu sendiri dan mau tidak mau dengan berat hati ia meninggalkan kekasihnya, terbang ke arah yang jauh dengan memba a harapan. Dalam sekejap telah tiba musim semi yang kedua, sang kupu-kupu dengan tidak sabarnya segera terbang kembali mencari kekasihnya yang lama di tinggalkannya. Namun di samping bayangan yang tak asing lagi ternyata telah berdiri seorang perempuan cantik. Dalam sekilas itu sang kupu-kupu nyaris jatuh dari angkasa.Ia benar-benar tidak percaya dengan pemandangan di depan matanya sendiri. Lebih tidak percaya lagi dengan omongan yang di bicarakan banyak orang. Orang-orang selalu menceritakan ketika hari natal, betapa parah sakit sang lelaki. Melukiskan betapa baik dan manisnya dokter perempuan itu. Bahkan melukiskan betapa sudah sewajarnya percintaan mereka dan tentu saja juga melukiskan bahwa sang lelaki sudah bahagia seperti dulu kala.

Sang kupu-kupu sangat sedih. Beberapa hari berikutnya ia seringkali melihat kekasihnya sendiri membawa perempuan itu ke gunung memandang matahari terbit, menghantar matahari senja di pesisir pantai. Segala yang pernah di milikinya dahulu dalam sekejap tokoh utamanya telah berganti seorang perempuan lain sedangkan ia sendiri selain kadangkala bisa hinggap di atas bahunya, namun tidak dapat berbuat apa-apa. Musim panas tahun ini sangat panjang, sang kupu-kupu setiap hari terbang rendah dengan tersiksa dan ia sudah tidak memiliki keberanian lagi untuk mendekati kekasihnya sendiri. Bisikan suara antara ia dengan perempuan itu, ia dan suara tawa bahagianya sudah cukup membuat hembusan napas dirinya berakhir, karenanya sebelum musim panas berakhir, sang kupu- kupu telah terbang berlalu. Bunga bersemi dan layu. Bunga layu dan bersemi lagi. Bagi seekor kupu-kupu waktu seolah-olah hanya menandakan semua ini. Musim panas pada tahun ketiga, sang kupu-kupu sudah tidak sering lagi pergi mengunjungi kekasihnya sendiri. Sang lelaki bekas kekasihnya itu mendekap perlahan bahu si perempuan, mencium lembut wajah perempuannya sendiri. Sama sekali tidak punya waktu memperhatikan seekor kupu-kupu yang hancur hatinya apalagi mengingat masa lalu. Tiga tahun perjanjian Tuhan dengan sang kupu-kupu sudah akan segera berakhir dan pada saat hari yang terakhir, kekasih si kupu-kupu melaksanakan pernikahan dengan perempuan itu. Dalam kapel kecil telah dipenuhi orang-orang. Sang kupu-kupu secara diam- diam masuk ke dalam dan hinggap perlahan di atas pundak Tuhan. Ia mendengarkan sang kekasih yang berada dibawah berikrar di hadapan Tuhan dengan mengatakan "saya bersedia menikah dengannya!". Ia memandangi sang kekasih memakaikan cincin ke tangan perempuan itu, kemudian memandangi mereka berciuman dengan mesranya lalu mengalirlah air mata sedih sang kupu-kupu. Dengan pedih hati Tuhan menarik napas "Apakah kamu menyesal?". Sang kupu-kupu mengeringkan air matanya "Tidak". Tuhan lalu berkata di sertai seberkas kegembiraan "Besok kamu sudah dapat kembali menjadi dirimu sendiri". Sang kupu-kupu menggeleng-gelengkan kepalanya "Biarkanlah aku menjadi kupu-kupu seumur hidup". Ada beberapa kehilangan merupakan takdir. Ada beberapa pertemuan adalah yang tidak akan berakhir selamanya. Mencintai seseorang tidak mesti harus memiliki, namun memiliki seseorang maka harus baik-baik mencintainya.

-Cerita (Author Unknown)

Selasa, 10 Januari 2012

DAUN, POHON, ANGIN

~ Pohon

Aku selalu menggunakan gambar pohon pada sisi kanan sebagai trademark

pada semua lukisanku.

Aku telah berpacaran sebanyak 5 kali...

Ada satu wanita yang sangat aku cintai..

tapi aku tidak punya keberanian untuk mengatakannya...

Dia tidak cantik..tidak memiliki tubuh yang sexy..

Dia sangat peduli dengan orang lain..religius Tapi..dia hanya wanita

biasa saja.

Aku menyukainya..sangat menyukainya..

Gayanya yang innocent dan apa adanya..

kemandiriannya..kepandaiannya dan kekuatannya...

Alasan aku tidak mengajaknya kencan

karena..Aku merasa dia sangat biasa dan tidak serasi untukku...

Aku takut...jika kami bersama semua perasaan yang indah ini akan hilang...

Aku takut kalau gosip2 yang ada akan menyakitinya...

Aku merasa dia adalah "sahabatku"...

Aku akan memilikinya tiada batasnya...

Tidak harus memberikan semuanya hanya untuk dia...

Alasan yang terakhir..membuat dia menemaniku Dalam berbagai pergumulan

selama 3 tahun ini...

Dia tau aku mengejar gadis2 lain dan aku telah membuatnya menangis

selama 3 tahun...

Ketika aku mencium pacarku yang ke-2 terlihat Olehnya...

Dia hanya tersenyum dengan berwajah merah..

"lanjutkan saja" katanya, setelah itu pergi meninggalkan kami.

Esoknya, matanya bengkak..dan merah...

Aku sengaja tidak mau memikirkan apa yang menyebabkannya menangis...

But aku tertawa...bercanda dengannya seharian Di ruang itu...

Di sudut ruang itu dia menangis...

Dia tidak tau bahwa aku kembali untuk mengambil sesuatu yang tertinggal...

Hampir 1 jam kulihat dia menangis disana....

Pacarku yang ke-4 tidak menyukainya...

Pernah sekali mereka berdua perang dingin, Aku tau bukan sifatnya untuk

memulai perang dingin...

Tapi aku masih tetap bersama pacarku...

Aku berteriak padanya dan matanya penuh dengan air mata sedih dan kaget...

Aku tidak memikirkan perasaannya dan pergi meninggalkannya bersama

pacarku...

Esoknya masih tertawa dan bercanda denganku Seperti tidak ada yang

terjadi sebelumnya...

Aku tau dia sangat sedih dan kecewa tapi dia tidak tau bahwa sakit

hatiku sama buruknya dengan dia...

Aku juga sedih...

Ketika aku putus dengan pacarku yang ke 5, Aku mengajaknya pergi...

Setelah kencan satu hari itu, aku mengatakan bahwa ada sesuatu yang

ingin kukatakan padanya...

Dia mengatakan bahwa kebetulan sekali bahwa dia juga ingin mengatakan

Sesuatu padaku...

Aku cerita tentang putusnya aku dengan pacarku...

Dia berkata bahwa dia sedang memulai suatu hubungan dengan seseorang...

Aku tau pria itu...dia sering mengejarnya selama ini...

pria yang baik, penuh energi dan menarik...

Aku tak bisa memperlihatkan betapa sakit hatiku, aku hanya

tersenyum...dan mengucapkan selamat padanya...

Ketika sampai di rumah, sakit hatiku bertambah Kuat dan aku tidak dapat

menahannya...

Seperti ada batu yang sangat berat didadaku...

aku tak bisa bernapas dan Ingin berteriak namun apa daya...

Air mataku mengalir tak terasa aku menangis karenanya...

Sudah sering aku melihatnya menangis untuk pria yang mengacuhkan

kehadirannya...

Handphoneku bergetar...ternyata ada sms masuk...

sms itu dikirim 10 hari yang lalu ketika aku sedih dan menangis...

Sms itu berbunyi..

"daun terbang karena angin Bertiup atau karena pohon tidak memintanya

untuk tinggal?"

~ daun ~

Aku suka mengoleksi daun-daun.. Karena aku merasa bahwa daun untuk

meninggalkan pohon yang selama ini

ditinggali membutuhkan banyak kekuatan.

Selama 3 thn aku dekat dengan seorang pria, Bukan sebagai pacar tapi

"sahabat" Tapi ketika dia mempunyai pacar untuk yang pertama kalinya...

Aku mempelajari sebuah perasaan yang belum pernah aku pelajari

sebelumnya - cemburu...

Perasaan di hati ini tidak bisa digambarkan dengan menggunakan lemon.

Hal itu seperti 100 butir lemon busuk. Mereka hanya bersama selama 2

bulan...

Ketika mereka putus, aku menyembunyikan perasaan yang luar biasa

gembiranya.

Tapi sebulan kemudian dia bersama seorang gadis lagi...

Aku menyukainya dan aku tau bahwa dia juga Menyukaiku, tapi mengapa dia

tidak mau mengatakannya?

Jika dia mencintaiku, mengapa dia tidak memulainya dahulu untuk melangkah?

Ketika dia punya pacar baru lagi, hatiku sedih...

Waktu berjalan dan berjalan, hatiku sedih dan kecewa...

Aku mulai mengira bahwa ini adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan...

Tapi..mengapa dia memperlakukanku lebih dari sekedar seorang teman?

Menyukai seseorang sangat menyusahkan hati..

aku tahu kesukaannya...kebiasaannya...

Tapi perasaannya kepadaku tidak pernah bisa diketahui...

Kau tidak mengharapkan aku seorang wanita untuk mengatakannya bukan ?

Diluar itu, aku mau tetap disampingnya...

memberinya perhatian...menemani...dan mencintainya...

Berharap suatu hari nanti dia akan datang dan mencintaiku...

Hal itu seperti menunggu telephonenya tiap Malam...

mengharapkan mengirimku sms...

Aku tau sesibuk apapun dia, pasti meluangkan waktunya untuk ku...

Karena itu, aku menunggunya...

3 tahun cukup berat untuk kulalui dan aku mau menyerah..

kadang aku berpikir untuk tetap menunggu...

Dilema yang menemaniku selama 3 tahun ini...

Akhir tahun ke-3, seorang pria mengejarku...

Setiap hari dia mengejarku tanpa lelah...

Segala daya upaya telah dilakukan walau Seringkali ada penolakan dariku...

Aku berpikir...apakah aku ingin memberikan ruang kecil di hatiku

untuknya ?!..

Dia seperti angin yang hangat dan lembut, Mencoba meniup daun untuk

terbang dari pohon...

Akhirnya, aku sadar bahwa aku tidak ingin memberikan angin ini ruang

yang kecil di hatiku...

Aku tau angin akan membawa pergi daun yang lusuh jauh dan ketempat yang

lebih baik...

Akhirnya aku meninggalkan pohon...

Tapi pohon hanya tersenyum dan tidak memintaku untuk tinggal...

Aku sangat sedih memandangnya tersenyum ke arahku...

"daun terbang karena angin bertiup atau karena pohon tidak memintanya

untuk tinggal?"

~ angin ~

Aku menyukai seorang gadis bernama daun...

Karena dia sangat bergantung pada pohon..

jadi aku harus menjadi angina yang kuat...

Angin akan meniup daun terbang jauh...

Pertama kalinya..aku melihat seseorang memperhatikan kami...

Ketika itu, dia selalu duduk disana sendirian atau dengan teman2nya

Memperhatikan pohon...

Aku tahu DAUN sering memperhatikan POHON, melihatnya dari kejauhan.

ketika DAUN sedang berkumpul bercanda dengan teman-temannya,

DAUN sering mencuri-curi pandang ke POHON.

Ketika pohon berbicara dengan gadis2, ada cemburu di matanya...

Ketika pohon melihat ke arah daun, ada senyum di matanya...

Memperhatikannya menjadi kebiasaanku..

Seperti daun yang suka melihat pohon.

Satu hari saja tak kulihat dia...aku merasa sangat kehilangan...

Di sudut ruang itu, ku lihat pohon sedang memperhatikan daun...

Air mengalir di mata daun ketika pohon pergi...

Esoknya...ku lihat daun di tempatnya yang Biasa, sedang memperhatikan

pohon..

Aku tahu DAUN sering serba salah dengan perasaannya.

Ketika POHON punya pacar baru yang entah keberapa, ada cemburu di matanya.

Ketika POHON putus dari pacarnya yang entah keberapa, ada sedikit kelegaan di wajahnya.

Pernah satu saat kulihat dia menangis sendiri di sudut itu.

Aku tau saat itu hatinya terluka oleh POHON.

Aku turut sedih melihat dia menangis,

aku ingin mendekatinya, tapi dia mengatakan dia hanya ingin sendiri.

Esok harinya matanya yang teduh kelihatan sembab.

Aku mendekatinya, aku membelainya dengan desiranku yang lembut

dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya,

“aku baik-baik saja” katanya pendek.

Esok hari berikutnya aku lihat dia sudah tersenyum riang ditemani POHON,

aku hampiri dan hanya menyapa mereka berdua.

Hampir tiap hari kusempatkan menengoknya,

kadang kutemani dia dengan tarianku,

kubawakan dia cerita-cerita buah perjalananku.

Kadang dia tertawa-tawa mendengarnya.

Wah…aku senang sekali melihat senyum dan tawanya.

Aku ikut tertawa melihat dia tertawa.

Aku melangkah dan tersenyum padanya...

Kuambil secarik kertas..kutulis dan kuberikan padanya...

Dia sangat kaget...

Dia melihat ke arahku, tersenyum dan menerima kertas dariku...

Esoknya...dia datang...menghampiriku dan memberikan kembali kertas itu...

Hati daun sangat kuat dan angin tidak bisa meniupnya pergi, Hal itu

karena daun tidak mau meninggalkan pohon.

Aku melihat kearahnya...kuhampiri dengan kata2 itu...

Sangat pelan...dia mulai membuka dirinya dan Menerima kehadiranku dan

telponku...

Aku tau orang yang dia cintai bukan aku...

Tapi aku akan berusaha agar suatu hari dia menyukaiku...

Selama 4 bln, aku telah mengucapkan kata cinta tidak kurang dari 20x

Kepadanya...

Hampir tiap kali dia mengalihkan pembicaraan...

tapi aku tidak menyerah...

Keputusanku bulat....aku ingin memilikinya...

dan berharap dia akan setuju menjadi pacarku....

Aku bertanya," apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak pernah membalas?

Mengapa kau selalu membisu?"

Dia berkata, "aku menengadahkan kepalaku"...

"ah?" aku tidak percaya dengan apa yang kudengar...

"aku menengadahkan kepalaku" dia berteriak...

Kuletakkan telepon......melompat....berlari seribu langkah...ke rumahnya...

Dia membuka pintu bagiku...

Ku peluk erat-erat tubuhnya...

"daun terbang karena tiupan angin atau karena pohon tidak memintanya

untuk tinggal?"

Suatu hari tiba-tiba ia menengadahkan kepalanya padaku.

Rasanya aku hampir tidak percaya.

DAUNku…aku akan menjagamu….

aku akan menemanimu sepanjang hidupku…..

karena aku sangat menyayangimu..

Hari itu DAUN kubawa menuju senja, tempat yang dia sangat sukai.

Aku membawanya bersamaku.

Aku takut merusak DAUN yang tampak lusuh dan ringkih,

aku tau masih ada ragu dihatinya untuk meninggalkan POHON.

Sejurus kulihat dia menoleh ke arah POHON, mungkin mengharap POHON memintanya untuk tinggal, tapi POHON hanya melambaikan tangannya.

DAUNkupun akhirnya memantapkan langkahnya…bersamaku…menuju senja..

*****

nb: aku tak pernah cukup kuat untuk menjadi pohon yg dapat menahan daun

untuk tinggal

aku juga tak pernah sanggup menjadi angin yg dapat meniup daun

untuk tinggalkan pohon..

aku hanyalah seseorang atau sesuatu.. tempat hempasan hasrat sesaat

rindu..

lalu beku..

===========================================

Sudah hampir 4 tahun semenjak perpisahan dengan sang POHON, DAUN tetap bisa menjalani kehidupannya dengan normal dan baik-baik saja.

Tiupan angin seringkali membawa DAUN berpindah tempat, dan dimanapun DAUN singgah, selalu tercipta kehidupan yang menyenangkan. Lingkungan yang selalu menerimanya dengan baik, kawan-kawan baru yang menyenangkan. Hingga suatu kali, saat DAUN lagi-lagi diterbangkan oleh angin dan jatuh ke lingkungannya semula, DAUN tetap biasa-biasa saja. Kehidupan yang dijalani tetap saja menarik dan menyenangkan. Keberadaan sang POHON di lingkungan itu tidak benar-benar mempengaruhi kehidupannya. Sesekali mereka saling menyapa, dan terkadang tertawa bersama, namun kemudian kembali sibuk dengan kehidupan masing-masing. Bahkan keberadaan selembar DAUN lain di dahan sang POHON pun tak berpengaruh apapun terhadap perasaannya.

Apakah DAUN tak menginginkan sang POHON lagi?

Sepertinya begitu, karena tampak beberapa kali DAUN terlihat mesra bercengkerama dengan ANGIN. Bahkan DAUN sudah mulai mengabaikan dan tak menganggap penting lagi tanggal-tanggal keramat mereka berdua. Sesekali DAUN datang ke sang POHON, namun hanya untuk mengobati kegundahan hatinya. DAUN tidak benar-benar datang untuk sang POHON lagi. Selalu ada tujuan lain yang menyertai kedatangannya.

Hingga suatu hari, entah kenapa seharian itu DAUN harus disibukkan akan kenangan-kenangan mereka berdua. Kotak surat yang jarang dia sentuh itu tiba-tiba meminta perhatiannya untuk dibersihkan. Surat-surat terdahulunya bersama sang POHON satu persatu dibukanya kembali. Seringkali terlihat senyum mengembang diwajah cantik DAUN kala membaca ulang surat-surat itu.

‘Depend on you, kamu kan yang suka maksa .. :p

Thanks to be my counsellor Gde Prama gadungan

miss u”

_POHON

“Tunjukkin dulu tiketnya lah, nanti duitnya cuman buat beli soto di warung encik2 itu.

Take care ya..”

_POHON

Jangan nakal ya.. :p”

_POHON

Entah sudah berapa lama DAUN asik dengan surat-surat itu, dan sepertinya DAUN tenggelam dengan keasikan itu. Foto-foto kenangan diamatinya lagi lebih dalam, senyum sang POHON tampak selalu mengembang. Dan binar matanya… tampak sekali kebahagiaan terpancar disana.

DAUN pun kemudian mengamati foto-fotonya sendiri yang terkoleksi bersama tumpukan surat-surat itu. Meskipun dengan banyak gaya, namun satu yang selalu menonjol, binar mata DAUN! Ah… mata memang benar-benar cerminan hati.

Semua kebahagiaan kala bersama sang POHON terputar kembali. Seringai-seringai nakalnya yang selalu bikin sang POHON tertawa kegirangan, perdebatan-perdebatan kecil yang akan langsung sirna dengan peluk hangat sang POHON, perhatian, cinta, dan kasih sayang yang tersaji telah membuat mereka mampu melalui penatnya hari. Aaah… kehidupan yang benar-benar bahagia dan sempurna. DAUN terpekur sesaat.

Apakah kehidupannya saat ini tidak bahagia dan sempurna?

Bukankah sosok sang POHON telah terhapuskan dengan kehadiran sang ANGIN?

DAUN masih terpekur…

Aku mungkin hanya senang, belum sebahagia kala aku bersama sang POHON. Tapi apakah bahagia itu penting? Bisa tertawa senang, sepertinya sudah cukup buatku. Bisa melalui hari-hari dengan lebih mudah dan ceria, juga sudah cukup buatku. Toh kebahagiaan itu bisa aku dapatkan dari cara lain. Saat mendengar ada DAUN lain yang bertengger di dahan sang POHON, DAUN tanpa sadar ikut bersyukur dalam hatinya. Saat mendengar sang POHON semakin melesat karirnya, DAUN ikut merasa bersukacita, Dan kabar-kabar bahagia lainnya tentang sang POHON selalu bisa memacu hormon kebahagiaan dalam diri DAUN.

Menghabiskan waktu bersama ANGIN mungkin belum menimbulkan kebahagiaan buat DAUN. Namun mendengar dan melihat kebahagiaan sang POHON telah membuat DAUN bahagia.

DAUN pun menjadi tahu, bahwa kebahagiaannya adalah saat melihat sang POHON bahagia. Meskipun kebahagiaan itu tidak harus dilalui bersamanya…

Jakarta, 9 Februari 2009

Tiba-tiba aku sangat merindukanmu”

-DAUN-

Sepenggal tulisan itu telah terkirim ditiup angin kearah sang POHON. DAUN tidak peduli apakah sang POHON membaca tulisan itu. Dia hanya ingin merepresentasikan apa yg dia rasa saat itu, sebelum DAUN benar-benar pergi lagi mengikuti arah ANGIN yang bertiup.

DAUN mulai berkemas, bulan ini angin bertiup sangat kencang. Dan DAUN sudah merasa bahwa tiupan ANGIN itu akan membawanya pergi ke tempat lain lagi.

Saat ada kesempatan untuk pergi, aku justru menemukan alasan untuk tetap tinggal. Kamu…

_Jakarta, di sisahati

note : DAUN pergi, karena tertiup angin atau karena POHON tak memintanya untuk tinggal?

from the story Daun, Pohon, dan Angin

Author = Unknown

Kamis, 05 November 2009

Namaku Risda bag.1

Mendung memayungi bumi sore ini. Sepi tanpa ayah. Ku pandangi Nanda yang tertidur pulas didepanku. Kemudian pandanganku beralih pada foto besar ibu di dinding. Hatiku menangis. Hampir lima bulan ibu pergi meninggalkan kami semua dan tak kembali karena penyakitnya. Adikku Nanda, masih sering mencarinya. Ia masih belum terima dengan kepergian ibu. Oh..malangnya dia. Masih terlalu kecil untuk ditinggal ibu. Apalagi aku sibuk sekolah dan ayah juga bekerja. Tiap hari, Nanda cuma ditemani kak Azna tetangga sebelah. Tentu dia sangat merasa kesepian sekali.
Satu lagi masalahku kembali hadir. Dua hari sudah ayah pergi keluar kota karena kerjaannya. Haahhh... menambah kesepianku saja. Apa ayah tak mengerti betapa aku dan Nanda sangat membutuhkannya..?? Fiuuhhh.. aku harus semakin kuat seperti kata ibu! Tiba-tiba ku dengar pintu diketuk. "Siapa...!!!???" teriakku seraya berlari menuju pintu. Ku buka pintu rumah yang tak terkunci. Kreekk... suara derekan pintu besar setinggi dua meter lebih, mengiringi keterkejutanku. Ayah berdiri didepan pintu seraya tersenyum. Aku segera menyalami tangannya yang mulai keriput. "kenapa ayah pulang cepat sekali?? bukannya ayah bilang 3 minggu baru kembali??"tanyaku heran. "memang kenapa? Jadi ayah gak boleh pulang nih?" ayah membalas pertanyaanku sambil menggoda. "ihhh.. bukan begituu.." kata-kataku terhenti melihat seorang wanita bersama anak laki-laki yang sepertinya seumuranku keluar dari mobil ayah. Aku segera menarik lengan Ayah dan melekatkan telinganya didepan mulutku "ayah, siapa mereka?!" bisikku sambil memandang dua orang yang sangat asing bagiku. "udah kamu jangan banyak tanya sekarang..." jawab ayah singkat sambil berjalan santai memasuki rumah. Huuhh... aku hanya membuntutinya dari belakang. Di ujung pelupuk mata, terlihat tamu tak ku kenal itu mengikuti masuk.
"Silahkan duduk Mar," kata ayah kepada anak laki-laki itu. Dia hanya tersenyum kemudian duduk di sofa bersama wanita tadi yang ternyata ibunya. Sejuta pertanyaan tentang mereka masih menggelayuti otakku. Dan rupanya Ayah pun tak ingin aku tenggelam dalam penasaran. "Ris, kenapa kamu masih bengong disitu! apa yang biasa dilakukan kalau ada tamu begini???" tegur ayah menghancurkan semua rasa penasaranku yang tertuang dalam diam dibalik tembok antara ruang tamu dan ruang makan. "iya, Risda ngerti. Mau dibuatkan apa? teh atau sirup ayah?" "sirup dingin aja. panas-panas begini paling enak minum sirup kan.." jawab ayah sambil melepas sepatunya kemudian melanjutkan "oiya, setelah itu panggil Nanda juga ya. Biar kita ngobrol sama-sama diruang depan" "iya.." aku mengangguk.
Minum telah tersedia di meja. Nanda masih mengucek-ngucek matanya yang masih merah karena mengantuk. Aku duduk disamping ayah yang hendak memulai pembicaraan. Seketika suasana hening. Aku dan anak laki-laki itu saling pandang. Dia tersenyum. Ihh..? senyum apa itu? "ehemmm.." ayah berdehem kemudian melanjutkan "jadi saya mohon maaf ya bu karena tadi hampir menabrak ibu dan Umar. Saya benar-benar sedang buru-buru" ucap ayah. Apaa!!?? ayah hampir menabrak wanita dan anaknya ini!!?? hatiku terus berbicara. Kemudian ayah melanjutkan "Jadi bagaimana tawaran saya yang tadi bu? apa ibu bersedia?" tanya ayah kepada wanita itu. Pertanyaan ayah kali ini benar-benar membuat keherenanku mencapai puncak kepala. "iyaaa.. bagaimana ya pak, saya sangat senang lagi dengan tawaran bapak. Saya merasa beruntung bertemu bapak walau hampir saya dan anak saya tertabrak" jawab wanita itu panjang lebar. Ayah hanya tertawa kecil diikuti wanita itu. Sementara aku, Nanda, dan anak laki-lakinya hanya terdiam. Karena sudah tak tahan lagi, aku segera berceloteh "jadi ayah, siapa mereka?" Ayah menghentikan tawa kecil sambil menepuk dahi. "Oiya,,! ayah hampir lupa. kenalkan, ini ibu Marni dengan anaknya Umar. Mereka akan bantu-bantu kita disini. Ayah tahu Ris, kamu sangat kesulitan membagi waktu antara pekerjaan rumah dan sekolah. Untung ayah bertemu ibu Marni dan Umar. Tadi ayah hampir menabrak mereka yang sedang menyebrang. Tahu gak Ris, ayah mimpi buruk tentang kamu dan Nanda makanya ayah pulang cepat-cepat!" cerita ayah panjang lebar. "Ooo... sekarang Risda ngerti. Iya betul yah, emang Risda butuh banget orang yang bisa bantu pekerjaan rumah. Makasih ya yah.. Oia, selamat datang juga bu, semoga betah disini!" sambutku riang ketika tahu siapa tamu ayah yang akan menjadi penghuni rumah baru dirumah ini. Dan selanjutnya, obrolan hangat pun terjalin antara kami semua. Hmm.. awal yang baik.


bersambung...